Tiga Ribuan Sampai Jutaan (oleh Tanti Yuliani)

Image

DSC08967 (FILEminimizer)

Plesir ke Jogja belum lengkap kalau belum ke Malioboro, lebih tidak lengkap kalau tidak mengunjungi tempat yang satu ini pusat perbukuan. Surga bagi para penggila buku, kutu buku, dan penggila buku murah. Puluhan kios buku, ribuan jenis buku bahkan jutaan buku dapat ditemukan di tempat ini.

Buat pengunjung yang masih awam dengan dengan kota Jogja, jangan sampai tertipu tukang becak karena jarak pusat perbukuan dengan alun-alun jogja tidaklah jauh. Cukup berjalan kaki kurang lebih 10 menit dari alun-alun kota, pengunjung sudah dapat menjangkau tempat ini. pusat perbukuan ini berdiri tepat berada di belakang taman pintar dan bersebelahan dengan teater

Berbagai macam buku terdapat disini. Dan yang lebih menggiurkan lagi pusat perbukuan ini tidak menimbulkan efek samping kantong kering. Harganya yang sangat terjangkau membuat pusat perbukuan ini tidak pernah sepi pengunjung. Bayangkan hanya dengan tiga ribu rupiah pengunjung bisa membawa pulang sebuah buku.

Salah satu toko yang memberi keistimewaan itu adalah toko buku Raja Murah 2. Sesuai namanya, toko ini menyediakan buku-buku murah dengan kualitas yang tidak murahan. Tiap pembelian jenis buku apapun pembeli akan mendapat diskon 30% – 70 %.

Koleksi buku di TB ini mencapai ribuan. Harganya juga beragam mulai dari 3 ribuan sampai jutaan. Dari buku bacaan ringan sampai buku-buku ilmu pengetahuan. Komik Crayon Sinchan sampai buku-buku kedokteran, ada di TB ini.

Hanya saja di TB Raja Murah 2 ini tidak melayani jual beli buku bekas. Semua koleksi buku di toko ini disuplai langsung oleh agen-agen penerbit buku. Tapi jangan khawatir, para pengunjung yang memburu buku-buku lama yang mungkin sudah tidak terbit bisa menemukannya di lantai 2 pusat perbukuan ini. sebagian besar TB di lantai 2 menjual buku-buku bekas yang harganya jauh lebih murah dari buku-buku di TB lantai 1.

Image Cukup membayar Rp15.000 pengunjung bisa membawa pulang buku ini. Jadi ke Jogja jangan hanya mampir ke Malioboro ingatlah tempat yang satu ini, tempat bermanfaat yang tidak bikin dompet sekarat.

ADA BU MINI DI PUSAT PERBUKUAN YOGYAKARTA. (by Suci Purbatin)

DSC08971 (FILEminimizer)Apakah anda merupakan salah satu orang yang mengaku gila informasi? kalau benar bagaimana cara agar anda dapat memuaskan rasa keingintahuan tersebut?. Pertanyan tersebut tentunya tidaklah sulit untuk dijawab bagi mereka yang gila akan informasi. Dan membaca merupakan jawaban yang kebanyakan mereka pilih. Dengan membaca seseorang dapat mengetahui semua kejadian atau peristiwa yang terjadi didunia, tanpa harus berada didekat atau waktu kejadian itu berlangsung. Karena masing-masing orang memiliki tujuan yang berbeda dalam membaca, maka dalam memilih bacaan disesuaikan dengan kesenangan, situasi, dan umur dari pembaca itu.

Selain karena hobi, maraknya program pemerintah untuk gemar membaca merupakan salah satu faktor yang membuat banyak orang yang gila membaca. Tidak hanya pelajar atau mahasiswa saja, orang tua saat ini juga tidak mau ketinggalan informasi. Hal inilah yang menyebabkan kebutuhan buku semakin banyak, walaupun variasi buku yang bermunculan tidak kalah banyaknya. Kebutuhan akan buku-buku tersebutlah yang menyebabkan sekarang ini banyak bermunculan pusat-pusat perbukuan disetiap kota. Dan salah satu pusat perbukuan yang terkenal adalah pusat perbukuan atau Shopping Centre yang terdapat di Yogyakarta.

Pusat berbukuan yang terletak di Jalan Senopati No. 3 Yogyakarta atau di sebelah selatan Pasar Beringharjo dan sebelah timur Benteng Vredeburg inilah, salah satu referen bagi mereka yang gila membaca. Dipusat buku tersebut tidak hanya dijual buku-buku baru tetapi juga buku-buku bekas yang masih layak dibaca. Harga yang ditawarkanpun cukup bervariasi, dari yang sampai jutaan sampai ada yang ribuan, tergantung jenis dan tebal buku. Keadaan pusat berbukuan ini juga cukup nyaman, kios-kios buku tertata dengan rapi dan didukung dengan keadaan yang bersih. Hal ini menyebabkan para pengunjung dapat betah berlama-lamaan dipusat buku, sambil memilih-milih buku yang sedang dicari.

Bu Mini, merupakan salah satu nama toko buku yang berjualan di pusat perbukuan tersebut. Nama lengkap pemilik toko itu adalah Sri Rukmini. Ibu Sri Rukmini atau yang biasa dipanggil Bu Mini sesuai dengan nama tokonya, sudah berjualan disana sejak tahun 1988. Dari dulu sampai sekarang Bu Mini selalu berjualan sendiri tampa melibakan pegawai. Hal ini dikarenakan selain toko yang dimilikinya kecil, penghasilan yang didapatkannya juga tidak menentu. Penghasilan dari berjualan buku tertinggi yang pernah diterimanya dalam sehari ialah 150.000,00. Kebanyakan dalam sehari ia hanya mendapatkan 20.000-30.000 atau tidak mendapat keuntungan sama sekali karena bukunya tidak terjual satupun. “lha ngeh pripun mbak, kadang blas mboten wonten sing tumbas”, ujar bu Mini.

Di toko kecil itu bu Mini berjualan buku baru dan juga buku bekas. Buku-buku yang dijual ditoko itu didapat dari koprasi dengan sistem bayar harian atau tuntas. Yang dimaksud sistem bayar harian ialah setiap hari petugas koprasi akan mendatangi toko untuk menagih uang buku. Sedangkan sistem bayar tuntas ialah pembayaran secara lunas saat pengambilan buku di koprasi. Harga buku yang dijualpun bervariasi atau bisa dibilang tidak terlalu mahal. Buku baru dipatok dari harga 125.000,00-15.000,00 sedangkan buku bekas 60.000,00-5000,00 tergantung dari jenis dan tebal buku. (Suci Purbatin_4D_09.1.01.07.0146_Feature)

Wanita Perkasa Malioboro (By Yuyun Nurmawati)

“Alhamdulillah, diparingi sehat daripada nganggur-nganggur mending pados arta.”

2013-05-31 16.14.15Kalimat ini meluncur ikhlas dari bibir tua si Mbah. Di tengah ramainya Jalan Malioboro yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta, kakinya masih lincah berjalan dengan membawa beban berat di punggungnya. Si Mbah ini bernama Kemiyem. Dia adalah salah satu dari puluhan tukang gendong yang ada di Jalan Malioboro.

Profesi yang kerap disebut dengan tukang gendong, kuli panggul atau buruh gendong ini telah ia lakoni selama hampir setengah abad. Ya, di usianya yang telah mencapai 68 tahun ia masih eksis menjalani profesi ini. Jarak rumah yang berada di Kulonprogo dengan Jalan Malioboro yang cukup jauh, tidak mengurangi semangat si Mbah untuk tetap bekerja. Setiap hari ia memulai bekerja pada pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Ia berkeliling sepanjang Jalan Malioboro untuk mencari pengguna jasanya. Para pengguna jasanya tidak hanya pedagang di pinggiran Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo, tetapi juga pembeli yang belanja dalam jumlah banyak.

Untuk urusan bayaran, ia tidak menentukan tarif khusus untuk menyewakan jasanya. Si Mbah menyerahkan sepenuhnya urusan tarif kepada penyewa.
“Kula mboten ndamel tarip-taripan, pun sakikhlase mawon ngeten niki,” ujar Mbah Kemiyem.
Hal ini menyebabkan penghasilannya tak menentu. Dalam sehari ia rata-rata hanya mendapatkan 60-80 ribu rupiah. Jumlah tersebut bisa berkurang atau bertambah bergantung pada jumlah pengguna jasa dan ongkos yang diberikan. Meski kadang ongkos yang diberikan kecil, si Mbah tetap setia mengikuti penyewanya berbelanja dan membawa barang mereka sampai tujuan akhir.

Di usianya yang tak muda lagi, seharusnya Mbah Kemiyem beristirahat dan menikmati hari tua bersama keenam anak dan 14 cucunya. Namun, si Mbah enggan melakukannya. Menurutnya daripada menganggur di rumah dan selagi masih sehat, lebih baik bekerja. Hasilnya selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pegangan di masa tua, juga untuk memberi uang jajan kepada cucu-cucunya.

Keberadaan tukang gendong atau kuli panggul ini menurut pedagang sangat membantu. Terutama ketika kios akan tutup pada sore hari dan ada transaksi antar kios.
“Wah, mbah-mbah itu meski sudah tua, masih kuat lho. Barang satu karung seperti ini masih sanggup digendong,” ujar Suci, salah satu pemilik kios. Meski terkadang merasa iba, namun para pedagang tetap menyewa tukang gendong ini untuk membawa barang dagangan.

“Ya sebenarnya kasihan, tapi kalau tidak disuruh seperti ini, nanti mereka tidak ada penghasilan. Lagipula mbah-mbah ini juga nurut saja, dibayar berapapun pasti mau. Jadi ya sangat membantu,” tambahnya.

Keberadaan para wanita sebagai kuli panggul di Jalan Malioboro memang bukan hal baru. Meski demikian, mereka patut diacungi jempol atas usahanya untuk menyambung hidup. Mbah Kemiyem dan kuli panggul lainnya adalah contoh wanita perkasa Indonesia. Mereka memilih untuk bekerja lebih keras daripada seharusnya.
“Mboten nopo-nopo. Abot-abot sing penting halal,” kata Mbah Kemiyem sambil tertawa.

Sebuah ucapan yang sangat berharga dari seseorang yang sederhana. (Yuyun Nurmawati,_09.101.07.0171_Feature)

Jajanan Manis Khas Jogja (By Tri Wahyuni)

2013-05-31 16.31.29Jogja selain terkenal sebagai kota pelajar, juga sering dikenal sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya dan pariwisata. Sehingga sudah tidak asing lagi jika banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke kota ini. Kota ini menawarkan begitu banyak pilihan tempat wisata yang cukup menarik dan menggugah untuk dikunjungi, seperti Parang Tritis, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Pusat Perbelanjaan Malioboro, Kasongan, dan sebagainya.

Selain menawarkan indahnya pesona pariwisata, di kota ini juga menawarkan berbagai macam makanan khas, yang sering dijadikan sebagai oleh-oleh bagi para pengunjung. Makanan tersebut sangat beragam, diantarnya adalah Geplak, Bakpia Pathok, Dodol Buah, dan sebagainya. Harga yang ditawarkannya pun cukup terjangkau. Mulai dari harga Rp.20.000 kita sudah dapat menikmati aneka jajanan khas tersebut.

Salah satu jajanan yang cukup banyak diminati oleh pengunjung adalah geplak. Geplak merupakan jajanan khas Jogja yang terbuat dari gula putih dan kelapa muda, dan berbentuk bulat. Geplak ini dijual dengan harga Rp. 20.000 / kg. Menurut Ibu Heni, salah satu penjual jajanan khas, Geplak lebih banyak diminati oleh para pengunjung dan lebih laris daripada jajanan yang lain. “Selama 10 tahun saya berjualan jajajan disini, yang paling banyak dibeli ya Geplak ini mbak. Sedangkan yang lainnya justru jarang,” ujar Bu Heni.

Untuk penjualan Geplak tersebut, bu Heni tidak membuat sendiri namun mengambil dari pembuat aslinya, yaitu dari Bantul—Yogyakarta. “Kalau geplak ini, saya langsung kulakan dari Bantul, mbak. Karena Geplak ini produk asli Bantul”, ujar Bu Heni. Selain Geplak, jajanan yang dijual oleh Bu Heni adalah Bakpia Pathok, Dodol Buah, Jenang Kudus, dan lain-lain.

Kekhasan Jogja tidak hanya berhenti pada makanannya saja, tetapi juga minumannya, yaitu Wedang Ronde. Minuman yang terbuat dari jahe ini merupakan minuman khas Jogja yang dapat memberikan rasa hangat pada tubuh. Satu mangkuk Wedang Ronde dijual dengan harga Rp. 5.000. Sehingga dengan harga yang cukup terjangkau kita sudah dapat menikmati minuman hangat ini serta dapat menghilangkan rasa dingin pada tubuh. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika berkunjung Jogja menyempatkan diri untuk mencicipi makanan dan minuman khas ini.

SI OBLONG ASLI GUDEG (By Rika Ambar K)

IMG04523-20130601-0121Siapa yang tidak kenal jalan Malioboro. Salah satu jalan yang berdekatan dengan Kraton Yogyakarta ini menjadi daya tarik tersendiri di kota Gudeg. Berbagai macam kain batik, baju batik, kerajinan tangan, makanan khas Jogja, dan para seniman semua berbaur menjadi satu. Barang –barang yang dijual bermacam-macam dengan harga dan kualitas bersaing.

Salah satu yang menjadi daya tarik disana adalah lapak penjual Djogker (Djogja T-shirt maker ). T-shirt produksi lokal Jogja ini menjadi pilihan wisatawan lokal. Karena desain kaos oblong dan sablon dengan gambar-gambar yang menarik. Penjual kaos di jalan Malioboro ini mayoritas hanya menjual kaos dengan harga yang relatif terjangkau.

Djogker T-shirt ini sangat mudah dikenali masyarakat melalui ciri-ciri desainya yang fresh dan gaul, selera anak muda banget. Penjual disana lihai dalam menawarkan barang dan teknik penjualan yang cukup ramah pada calon pembeli. Pembeli disuguhkan foto-foto desain kaos sablonan melalui satu lembar gambar, dan penjual juga sudah memberi harga sesuai dengan ukuran. Ciri lain, kaos Djogker ini hanya memiliki dua warna yaitu hitam dan putih. Dengan ciri-ciri tersebut meskipun masih dibilang produk baru, kaos ini mampu memikat hati wisatawan, meskipun belum se populer kaos Joker dari pulau Dewata melalui desainya berupa kata-kata yang unik.

Desain-desain yang unik dari kaos Djogker yang unik diangkat melalui lingkungan dan komunitas –komunitas anak muda di kota Jogja. Kualitas kain kaosnya cukup bagus, terdapat nilai plus dari kaos ini yaitu kualitas sablonya yang bagus dibandingkan dengan kaos yang lain. “ kalau sablonya pecah,sampeyan balikin mbak. Nanti kita ganti yang baru. Harga pas sesuai ukuran mbak . tinggal pilih gambar”. Kata salah satu penjual kaos Djogker.

Harga Djogker T-shirt ini juga tidak terlalu mahal dan harganya tidak boleh ditawar. Jadi jangan lupa jika berkunjung di jalan Malioboro belilah Djogker T-shirt sebagai salah satu oleh-oleh keluarga di rumah. Di jamin tidak akan menyesal. (Rika Ambar K, NPM : 09.1.01.07.0129)

PASAR SORE MALIOBORO JOGJA ( By. TRI RATNA SEJATI , NPM. 09.1.01.07.0152 , Kelas: 4D )

    Image 

Jika anda berwisata ke kota jogjakarta ini, pastikan anda tidak melewatkan wisata malam khas jogja. Buat madlam- malam anda di jogja tidak terlupakan dan membawa cerita ketika pulang ke kota anda nanti. Kebanyakkan wisata malam di jogja ini murah meriah, sebenarnya sih maunya siang dan malam jalan- jalan berkeliling di kota jogja karena wisata jogja tergolong wisata yang murah. Tulisan kali ini saya coba ingin membahas mengenai pasar sore malioboro ( pasar beringharjo) yang patut anda kunjungi di jogja menurut versi saya.

J Pasar Beringharjo telah di gunakan sebagai tempat jual beli sejak tahun 17u58. Tawarannya kini kian lengkap, mulai dari batik, jajanan pasar, jejamuan, hingga patung budha seharga ratusan ribu Beringharjo pasar tradisional terlengkap di yogyakarta.

    Pasar Beringharjo menjadi sebuah bagian dari Malioboro yang sayang untuk di lewatkan. Bagaimana tidak, Pasar ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Selain itu, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar “ Catur Tunggal” ( terdiri dari Kraton, Alun- alun utara, Kraton, dan Pasar Beringharjo) yang melambangkan fungsi ekonomi.

     Wilayah Pasar Beringharjo mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, Wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama Beringharjo sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin ( Bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan ( harjo). Kini, para wisatawan memakai pasar ini sebagai tempat belanja yang menyenangkan.

      Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dapat di jumpai Brem bulat dengan tekstur lebih lembut dari Brem Madiun dan Krasikan( semacam dodol dari tepung beras, gula jawa, dan hancuran wijen). Di sebelah selatan, dapat ditemui Bakpia isi kacang hijau yang biasa di jual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Sementara bagian belakang umumnya menjual panganan yang tahan lama seperti ting- ting yang terbuat dari karamel yang di campur kacang. ( TRI RATNA SEJATI, Npm.09.1.01.07.0152 : kelas 4D)

MEDIA MASSA TERTUA DI INDONESIA (Oleh Yunia Nur Afifah Isnani)-Feature

2013-05-31 10.40.07
Pernahkan anda berkunjung ke kota pelajar yakni Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)? Nah, kota Yogyakarta banyak menuai kisah sejarah, diantaranya Kedaulatan Rakyat (KR) yang telah dikunjungi dengan rekan-rekan mahasiswa tingkat 4 semester 8 beserta dosen pembimbing Bapak Subardi Agan dan pendamping pada hari jum’at tanggal 31 juni 2013, pukul 09.24 WIB.Kedatangan mahasiswa-mahasiswi disambut oleh Suci dilanjut Nis selaku ketua penyelenggara kunjungan. Disana kami semua mendapatkan banyak informasi tentang bagaimana sejarah bedirinya Kedaulatan Rakyat, proses perkembangan berjalannya media, percetakan dan hal lain yang telah didapatkan disana.

Kedaulatan Rakyat merupakan industri media yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat di Yogyakarta. Hal tersebut dikarenakan Kedaulatan Rakyat sudah ada sejak lama seiring dengan perkembangan Kota Yogyakarta. Masyarakat Yogyakarta sudah cukup familiar dengan keberadaan KR dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut pemaparan “Suci” yang telah ditemui dikantor Kedaulatan Rakyat sebagai ketua penyelenggara kunjungan rekan-rekan mahasiswa, beliau memaparkan tentang seluk-beluk Kedaulatan Rakyat memiliki nilai-nilai sejarah dan media massa yang mempunyai nilai-nilai perjuangan pada tahun 1980-an. Kedaulatan Rakyat (KR), didirikan H. Samawi dan H Soemadi Martono Wonohito pada tanggal 27 september 1945 yang merupakan media massa tertua di indonesia. Kedaulatan Rakyat juga merupakan media massa dengan jumlah terbesar nomor 6 di indonesia, kantor Kedaulatan Rakyat setiap harinya menerbitkan 100 koran dan Kedaulatan Rakyat juga mempunyai beberapa media cetak yang terdiri dari media cetak kedaulatan rakyat, mingguan, merapi, Kedaulatan rakyat online, kedaulatan rakyat radio itu semua dijalankan secara maksimal sesuai situasi dan kondisi serta mempunyai daerah segmentasi daerah pemasaran agar mempunyai nilai jual untuk tetap mempertahankan eksistensinya. menurut pemaparan “mbak suci” yang telah ditemui dikantor kedaulatan rakyat sebagai narasumber dalam kunjungan rekan-rekan mahasiswa di kantor kedaulatan rakyat. Mahasiswa sangat antusias dengan kunjungan tersebut, mereka mendengarkan dengan detail penjelasan mengenai sejarah terbentuknya Koran Kedaulatan Rakyat(KR) yang disampaikan oleh suci.

Setelah kita bertemu dengan Suci selaku ketua penyelenggara kunjungan, rekan-rekan Mahasiswa dihimbau untuk memasuki sebuah ruangan berisi mesin-mesin percetakan, gulungan kertas koran besar, dan tinta. Mahasiswa yang ingin mengetahui lebih jelas menanyakannya kepada Budi. Mesin cetak Goss Commoditi berasal dari Kanada, berfungsi untuk mencetak koran dan Goss Magnum seharga 30 M. Mahasiswa juga diajak berkeliling di ruang penjilidan dan percetakan oleh Budi selaku Perwakilan dari Kedaulatan Rakyat. (Yunia Nur Afifah Isnani_4D_09.1.01.07.0167_Feature)