Perempuan-perempuan “Roso” Bringharjo ( oleh Zaenab)

 

Bringharjo merupakan salah satu pasar terbesar yang terletak di daerah istimewa Yogjakarta, tepatnya di daerah sekitar Malioboro. Banyak pedagang dan pengunjung yang suka membanjiri pasar Bringharjo, mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, orang tua. Karen disana banyak barang-barang yang menarik untuk diperjual belikan. Pasar Bringharjo bukan hanya pasar tradisional dengan transaksi tradisional disini juga terdapat pusat grosir yang menyediakan berbagai macam barang terutama pakaian. Karena menjadi sentral jual-beli dengan skala besar pasar ini juga memiliki lokasi yang sangat luas.

Berbagai jenis barang diperdagangkan disini. Mulai dari jajanan khas Jogya, baju-baju batik, sandal, sepatu, beragam aksesoris dan masih banyak yang lainnya. Tersedianya berbagai jenis barang yang diperdagangkan membuat pasar ini tidak pernah sepi pengunjung. Berjubelnya pengunjung di pasar ini juga memunculkan berbagai profesi selain penjual. Salah satunya tukang gendong.

Kalau pengunjung ke pasar Bringharjo pastilah bertanya-tanya mengapa banyak perempuan-perempuan tua berseliweran kesana-kemari membawa “jarik” sejenis selendang dengan motif batik. Kadang mereka mengangkuti barang belanjaan pengunjung pasar Bringharjo. Iya, perempuan-perempuan perkasa itu adalah juru gendong Bringharjo, profesi yang ada dampak dari kegiatan jual beli di Bringharjo.

Image

Rata-rata juru gendong di pasar Bringharjo adalah wanita yang sudah lanjut usia. Salah satu juru gendong di pasar ini bernama Mbah Lajiyem. Dilihat dari kondisi fisiknya, Mbah Lajiyem kira-kira berusia 65an tahun, Mbah Lajiyem sendiri tidak ingat kapan tanggal lahirnya. Karena Mbah Lajiyem tinggal di daerah Kalasan, ia harus memulai aktivitasnya jauh lebih pagi dari rekan-rekannya. Nenek yang tidak memiliki keturunan ini harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya sendiri.

Itulah juru gendong Bringharjo, salah satu warna profesi di bringharjo. Potret perempuan-perempuan perkasa yang tidak tersentuh modernisasi. Mbah-mbah mulia yang hanya berimbalan seikhlasnya dari pengguna jasanya. Yang selalu menebar senyuman meskipun tak ada se-sen pun di tangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s