Wanita Perkasa Malioboro (By Yuyun Nurmawati)

“Alhamdulillah, diparingi sehat daripada nganggur-nganggur mending pados arta.”

2013-05-31 16.14.15Kalimat ini meluncur ikhlas dari bibir tua si Mbah. Di tengah ramainya Jalan Malioboro yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta, kakinya masih lincah berjalan dengan membawa beban berat di punggungnya. Si Mbah ini bernama Kemiyem. Dia adalah salah satu dari puluhan tukang gendong yang ada di Jalan Malioboro.

Profesi yang kerap disebut dengan tukang gendong, kuli panggul atau buruh gendong ini telah ia lakoni selama hampir setengah abad. Ya, di usianya yang telah mencapai 68 tahun ia masih eksis menjalani profesi ini. Jarak rumah yang berada di Kulonprogo dengan Jalan Malioboro yang cukup jauh, tidak mengurangi semangat si Mbah untuk tetap bekerja. Setiap hari ia memulai bekerja pada pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Ia berkeliling sepanjang Jalan Malioboro untuk mencari pengguna jasanya. Para pengguna jasanya tidak hanya pedagang di pinggiran Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo, tetapi juga pembeli yang belanja dalam jumlah banyak.

Untuk urusan bayaran, ia tidak menentukan tarif khusus untuk menyewakan jasanya. Si Mbah menyerahkan sepenuhnya urusan tarif kepada penyewa.
“Kula mboten ndamel tarip-taripan, pun sakikhlase mawon ngeten niki,” ujar Mbah Kemiyem.
Hal ini menyebabkan penghasilannya tak menentu. Dalam sehari ia rata-rata hanya mendapatkan 60-80 ribu rupiah. Jumlah tersebut bisa berkurang atau bertambah bergantung pada jumlah pengguna jasa dan ongkos yang diberikan. Meski kadang ongkos yang diberikan kecil, si Mbah tetap setia mengikuti penyewanya berbelanja dan membawa barang mereka sampai tujuan akhir.

Di usianya yang tak muda lagi, seharusnya Mbah Kemiyem beristirahat dan menikmati hari tua bersama keenam anak dan 14 cucunya. Namun, si Mbah enggan melakukannya. Menurutnya daripada menganggur di rumah dan selagi masih sehat, lebih baik bekerja. Hasilnya selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pegangan di masa tua, juga untuk memberi uang jajan kepada cucu-cucunya.

Keberadaan tukang gendong atau kuli panggul ini menurut pedagang sangat membantu. Terutama ketika kios akan tutup pada sore hari dan ada transaksi antar kios.
“Wah, mbah-mbah itu meski sudah tua, masih kuat lho. Barang satu karung seperti ini masih sanggup digendong,” ujar Suci, salah satu pemilik kios. Meski terkadang merasa iba, namun para pedagang tetap menyewa tukang gendong ini untuk membawa barang dagangan.

“Ya sebenarnya kasihan, tapi kalau tidak disuruh seperti ini, nanti mereka tidak ada penghasilan. Lagipula mbah-mbah ini juga nurut saja, dibayar berapapun pasti mau. Jadi ya sangat membantu,” tambahnya.

Keberadaan para wanita sebagai kuli panggul di Jalan Malioboro memang bukan hal baru. Meski demikian, mereka patut diacungi jempol atas usahanya untuk menyambung hidup. Mbah Kemiyem dan kuli panggul lainnya adalah contoh wanita perkasa Indonesia. Mereka memilih untuk bekerja lebih keras daripada seharusnya.
“Mboten nopo-nopo. Abot-abot sing penting halal,” kata Mbah Kemiyem sambil tertawa.

Sebuah ucapan yang sangat berharga dari seseorang yang sederhana. (Yuyun Nurmawati,_09.101.07.0171_Feature)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s