Investasi Emas Hitam Hingga Nugget (oleh Ayyu M. Fikriyah) – Feature

Kediri, Sabtu, 20 April 2013 19:30

Matahari belum tinggi pagi itu. Masih pukul 05.30. Budhi Santoso, 48, terdengar berbicara sendiri di pinggir kolam ikan. Tangannya merogoh-rogoh ember berisi pakan, kemudian terulur melempar pakan ke tengah kolam. Suara kecipak lele berebut pakan membuat kumisnya terangkat dan senyumnya mengembang. Sesekali ia menggumam ke arah lele-lele yang menghuni kolam di belakang rumahnya. Tawanya tercetak renyah saat lele-lelenya menjawab lewat cipratan air yang membasahi celana pendeknya.

Bagi orang yang belum pernah bertemu dengannya, pemandangan pagi tersebut mungkin terasa aneh. Namun, begitulah rutinitas harian pria paruh baya yang juga menjabat ketua RW di desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar, Kediri. Ia menyulap pekarangan belakang rumahnya menjadi kolam emas hitam. Ya, baginya lele sama berharganya dengan emas. Dibantu istrinya, ia mengelola 10 kolam lele, yang masing-masing kolam berisi sekitar 6.000 sampai 8.000 ekor lele.

Budhi mengungkapkan lele yang ada di kolam pembesaran miliknya tidak sama dengan lele yang biasa ada di pasaran. Ia menyebutnya lele organik. Benar saja, sekilas dilihat dari warnanya, kulit/sisik lele organik ini berwarna kemerahan.

Ketua RW ini tidak sendirian, ada lebih dari 60 orang anggota koperasi serba usaha (KSU) Joyoboyo menggeluti usaha yang sama serta berada dalam pengawasan dan bimbingannya. Usaha ini merupakan pengembangan klaster lele di bawah pembinaan Pemkab Kediri dan pihak-pihak terkait.

Berkat sistem budidaya lele organik yang ia terapkan pada kolam pembesaran miliknya, ia mampu menekan biaya pengeluaran untuk pakan dan perawatan. Pada prinsipnya sistem ini berupa manajemen kondisi air dan sektor pendukung lainnya sehingga menguntungkan proses budidaya. Budhi mampu meraup laba 2 juta – 3 juta dalam waktu 3 – 4 bulan saja. “Penak banget, di air kolam itu ada probiotik (mikroorganisme), hasil fermentasi saat persiapan sebelum penebaran. Jadi, pakan lebih irit, air ndak perlu diganti atau ditambah. Kepadatan 8.000, kedalaman air 30 sentimeter cukup,” bebernya.

Baru-baru ini (26/4), usaha lele organik Budhi Santoso mendapat kunjungan dari Dinas Perikanan dan Koperasi Jember. Tidak hanya Pemkab Kediri yang kagum dengan hasil kerja kerasnya, Riman, salah satu peserta rombongan mengungkapkan bahwa lele di kolam Budhi ini jelaslah lele andalan. “Pantas saja panen besar. Bibit ikannya saja aktif, kuat, dan bebas dari jamur. Utuh, tanpa cacat maupun luka. Benar-benar telaten,” ujar Riman sesaat setelah menengok kolam pembibitan. Mungkin itulah sebabnya mengapa rombongan luar kota saja tertarik dibimbing budidaya, apalagi warga sekitar, bahkan warga di luar Wates, seperti Kandat, Tegalan, dan Bawang pun berminat menjalin kerjasama dengannya.

Beberapa waktu lalu juga Budhi Santoso baru menghadiri seminar pengolahan hasil perikanan di Jombang. Ia pun termotivasi memperluas cakupan usahanya. Tidak terbatas pada penyediaan alat pertanian, pembibitan dan pembesaran lele.

Budhi pernah mengujicobakan hasil panennya diolah menjadi makanan siap saji seperti nugget dan sosis. Dia melihat ada peluang besar dalam usaha barunya. Membuka lapangan pekerjaan dengan memanfaatkan warga dan IRT/PKK untuk mewujudkan uneg-unegnya. Ia berharap semua proses produksi berpusat di kediamannya maupun warga Pandantoyo khususnya. Budhi memproyeksi keuntungan usahanya dalam jangka panjang terus meningkat bak emas. Makin hari, makin dicari.

Ayyu M. Fikriyah
09.1.01.07.0028
4D
Feature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s